Tag: Pola Asuh

  • Belajar Tentang Arti Kehidupan untuk Menguatkan Legacy Diri Sebagai Orang Tua

    Ђคll๏ … Pernahkah terpikirkan, sebagai orang tua legacy apa yang nantinya akan tinggalkan? Apakah yang kita perjuangkan dalam kehidupan ini dan sudah sejauh manakah kita belajar tentang arti kehidupan serta sudahkah kita menemukan makna hidup sesuai yang diharapkan?

    Uuh rasanya pertanyaan yang diajukan untuk itu begitu panjang dan jawaban yang dibutuhkan juga tidak mudah untuk diuraikan satu persatu. Karena setiap orang tua memiliki makna hidup yang berbeda-beda. Namun tujuannya tetap sama, yaitu ingin membahagiakan keluarga tercinta. 

    “Hidup ini terlalu singkat untuk menunggu saat yang tepat. Jalani momen ini semaksimal mungkin dan buatlah menjadi sempurna.”

    Memaknai-kehidupan-dan-belajar-tentang-arti-kehidupan

    Memaknai Kehidupan dan Belajar Tentang Arti Kehidupan

    Kehidupan merupakan perjalanan yang kompleks, penuh dengan tantangan, dan pencarian makna yang tak berkesudahan. Seiring dengan berjalannya waktu, kita sering merenung, mencari jawaban, dan berusaha memahami tujuan utama dari hidup ini. Dalam tulisan ini, kita akan menyelami lebih dalam dalam upaya memaknai kehidupan dan tujuannya. 

    1.Menemukan Arti Kehidupan

    Kehidupan selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut pemikiran mendalam, seperti “Apa arti dan tujuan hidup ini? Mengapa kita ada di dunia ini? Bagaimana cara kita mencapai kebahagiaan sejati?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ralph Waldo Emerson, seorang filsuf Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Tujuan hidup bukanlah untuk dicapai, tapi untuk dicari, dipahami, dan diekspresikan.”

    “Hidup itu indah tetapi singkat dan tidak dapat diprediksi – itulah alasan lain untuk menghargainya. Nikmati setiap momen karena tidak pernah kembali.”

    2. Menemukan Tujuan Hidup

    Setiap individu memiliki perjalanan hidup yang unik, serta penemuan tujuan hidup yang memadai menjadi kunci bagi keberhasilan dan kebermaknaan hidup. George Bernard Shaw, seorang pengarang dan pakar drama, pernah mengungkapkan, “Tujuan hidup bukanlah pencarian kebahagiaan semata, melainkan menemukan makna dalam setiap langkah yang diambil.”

    Untuk menemukan tujuan hidup, proses eksplorasi diri menjadi sangat penting. Ini melibatkan pemahaman mendasar tentang nilai-nilai individu, hasrat yang membara, dan potensi tersembunyi. Ada berbagai cara untuk mengeksplorasi diri, seperti membaca, berpraktik pada hobi, mendengarkan pikiran dan insting, serta mencari bimbingan dari mentor atau terapis.

    Baca juga :

    Belajar-Tentang-Arti-Kehidupan-Bentuk-Legacy-Diri-Sebagai-Orang-Tua

    Belajar Tentang Arti Kehidupan, Bentuk Legacy Diri Sebagai Orang Tua

    Anak bukanlah warisan orang tua. Kehidupan adalah perjalanan yang penuh dengan pertanyaan tak terjawab, tantangan, dan pencarian makna. Bagi orang tua, tanggung jawab ini menjadi semakin berarti, karena mereka bertanggung jawab penuh untuk membimbing anak-anak dalam menjalani kehidupan yang penuh makna dan nilai-nilai yang benar. Legacy diri yang dapat dilakukan orang tua, antara lain :

    1.Mengenal Arti Kehidupan

    Adalah konsep yang kompleks, yang sering kali tidak memiliki jawaban pasti. Namun, melalui penelusuran mendalam dan refleksi diri, kita dapat memulai perjalanan menuju pemahaman yang lebih baik. Dalai Lama dan Howard C. Cutler dalam bukunya “The Art of Happiness” menjelaskan bahwa arti kehidupan dapat ditemukan melalui menjalani hidup dengan maksud dan tujuan, membangun hubungan yang bermakna, dan memberikan kontribusi yang positif kepada dunia di sekitar kita.

    2. Membentuk Legacy Sebagai Orang Tua

    Sebagai orang tua, kita memiliki kesempatan unik untuk membentuk legacy yang akan berdampak pada kehidupan anak-anak kita dan generasi mendatang. Legacy tidak hanya berarti materi atau warisan fisik, tetapi juga melibatkan nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan hidup yang kita wariskan kepada anak-anak kita.

    3. Membangun Hubungan yang Kuat

    Anak-anak belajar banyak dari interaksi dan hubungan mereka dengan orang tua. Memberikan perhatian, waktu, dan kasih sayang yang mendalam kepada mereka akan memberikan landasan yang kuat bagi perkembangan mereka. 

    4. Memimpin dengan Teladan

    Seperti yang dikatakan oleh Dalai Lama, “Sebuah teladan adalah cara yang paling efektif untuk mengubah orang lain.” Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita perlu menjalani hidup yang konsisten dengan nilai-nilai yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita. Melakukan kebaikan, berperilaku adil, dan menunjukkan integritas dalam segala aspek kehidupan kita adalah upaya yang penting dalam membentuk legacy yang berarti.

    5. Menginspirasi dan Mendorong Anak-Anak

    Sebagai orang tua, kita memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi anak-anak kita. Menginspirasi mereka untuk mengejar impian mereka dengan semangat dan memberikan dukungan yang tulus adalah cara untuk membantu mereka menemukan arti kehidupan mereka sendiri. Memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan mengambil risiko adalah kunci dalam membentuk legacy positif.

    Penutup

    Belajar tentang arti kehidupan dan mempersiapkan legacy sebagai orang tua adalah proses yang berkelanjutan. Dalam perjalanan mengasuh anak-anak kita, tidak ada satu pun metode yang benar atau salah. Yang paling penting adalah menjadi orang tua yang peduli, komunikatif, dan peka terhadap kebutuhan dan perkembangan anak. Dengan melakukan hal itu, kita menciptakan warisan yang tak ternilai bagi generasi mendatang. Sudahkah hal ini kita lakukan pada anak-anak, yuk berjuang bersama untuk memberikan legacy terbaik untuk mereka yang tercinta. Love… 

    Salam, 

     

    Sumber Referensi:

    https://www.forbes.com/sites/danielscott1/2018/03/27/your-children-are-not-your-legacy/?sh=765916891472

  • Cara Mendidik Anak agar Mandiri dan Bertanggung Jawab

    Semua orang tua punya harapan yang besar pada buah hatinya. Banyak hal yang dilakukan agar harapan demi harapan yang diinginkan kelak dapat terwujud dengan baik. Memilih pola pengasuhan yang sesuai, memenuhi semua kebutuhannya juga berupaya memberikan pendidikan yang terbaik. Tak heran jika masih banyak yang mempertanyakan bagaimana sih cara mendidik anak agar mandiri dan bertanggung jawab. Mudahkah menjawabnya?

    Woow, pasti upaya dan rasa yang ada di dada susah diungkapkan dengan kata-kata. Mengasuh dan membesarkan anak tidak hanya butuh beberapa tahun saja, tetapi prosesnya panjang dan panjang. Itulah yang membuat rasa di dada sulit diungkapkan. 

    Nikmati Proses Menjadi Orang Tua

    Saat sedang bercengkrama di sekolah, seorang ibu curhat, “apa perlu mendidik dengan cara militer karena kalau terlalu lembut anak bisa jadi malah jadi kurang greget atau malah manja?”

    “Jangan bersikap keras ke anak Bunda, karena nanti jiwanya jadi ikut keras juga,” jawab ibu yang lain.

    “Duh… jadi bingungkan harus bersikap kalau begini. Ini salah, itu juga kurang tepat. Terus saya mesti bagaimana kalau anak tanggung jawabnya kurang. Diperhalus sudah, tapi tidak ada perubahan justru anaknya makin santai. Akhirnya saya tegasin saja biar anak juga tahu batasannya,” jelas ibu yang curhat. 

    Kunci menjadi orang tua memang kudu belajar pola pengasuhan anak dan belajar memahami diri sendiri juga kepribadian anak. Seorang guru mengingatkan bahwa menjadi orang tua itu tidak bisa hanya mengikuti pola asuh yang pernah dialami, tetapi perlu belajar dan terus belajar menjadi orang tua yang bijak dan mampu memahami karakter anak. Karena perkembangan setiap anak adalah unik dan tidak dapat dibandingkan. 

    Menanamkan-Rasa-Tanggung-Jawab-pada-Anak Menurut-Para-Ahli

    Menanamkan Rasa Tanggung Jawab pada Anak Menurut Para Ahli

    Menanamkan rasa tanggung jawab pada anak merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan. Hal ini bertujuan agar anak dapat menjadi individu yang bertanggung jawab dan bisa mengambil keputusan dengan bijaksana di masa depan. Beberapa pandangan dari para ahli tentang cara menanamkan rasa tanggung jawab pada anak, antara lain:

    1. Jane Nelsen dan Lynn Lott Penulis buku “Positive Discipline

    Menanamkan rasa tanggung jawab pada anak dilakukan dengan memberikan mereka kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Memperkenalkan tanggung jawab secara bertahap dan memberikan anak konsekuensi dari tindakan atau keputusan mereka.

    2. Dr. Laura Markham, Psikolog anak

    Menanamkan rasa tanggung jawab pada anak dapat dilakukan dengan memberikan mereka tugas-tugas yang sesuai dengan usia. Dalam proses ini, penting bagi orang tua untuk memberikan dukungan dan memberikan umpan balik positif agar anak merasa dihargai atas usaha mereka.

    3. Dr. Shefali Tsabary, Psikolog perkembangan anak

    Penting bagi orang tua untuk menjadi teladan dalam menunjukkan tanggung jawab. Dengan menjadi contoh yang baik, anak akan belajar mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.

    4. Dr. Rosalind Wiseman, Penulis buku “Queen Bees and Wannabes

    Menanamkan tanggung jawab pada anak juga melibatkan mengajarkan mereka untuk menghormati kebutuhan dan perasaan orang lain. Melalui pemahaman tersebut, anak-anak akan menjadi individu yang bertanggung jawab dalam membuat keputusan yang memperhatikan semua pihak.

    Dalam menanamkan rasa tanggung jawab pada anak, masing-masing ahli memiliki pendekatan yang berbeda, namun tujuan utamanya adalah mengajarkan anak untuk mengambil tanggung jawab atas tindakan dan keputusan mereka sendiri.

    Baca juga : 

    Menjadi Orang Tua Perlu Banyak Belajar

    Setiap anak berbeda karena mereka memiliki jiwanya masing-masing. Maka setiap proses yang dihadapi dan dijalani tentu mempunyai alurnya tersendiri. Tak adil rasanya jika kita membandingkan satu sama lain. Tentu semuanya membutuhkan proses. 

    Awalnya saya dan suami pun belajar secara bertahap untuk mengetahui karakter masing-masing anak. Memilih pola pengasuhan yang disepakati bersama dan melakukannya secara bertahap. Apakah selalu benar? Tentu tidak, bahkan pernah di tegur anak saat kami melakukan kesalahan. 

    Malukah? Sedikit, tetapi kami belajar untuk bisa memahami dan menyadari bahwa orang tua tidaklah selalu benar. Nobody perfect, termasuk orang tua. 

    Pengalaman diri sendiri, membaca berbagai literatur, sharing dari teman, mendengar petuah alim ulama juga para guru menjadi masukan yang berharga. Dapat memberikan gambaran mana yang bisa disesuaikan dengan kondisi anak dan diri pribadi. 

    Menjadi-Orang-Tua-Perlu-Banyak-Belajar

    Cara Rasulullah Mendidik Anak

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan teladan yang baik dalam mendidik anak-anak, antara lain:

    1. Memberikan contoh yang baik

    Rasulullah selalu memberikan contoh yang baik dalam kehidupannya sebagai seorang Muslim. Ia adalah teladan yang sempurna dalam segala hal. Beliau mengajarkan anak-anak dengan memberi contoh yang baik dalam segala aspek kehidupan, seperti kejujuran, kesabaran, dan tawakal kepada Allah.

    2. Membina hubungan yang baik

    Kepedulian dan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap anak-anak. Ia sering memperhatikan kebutuhan mereka dan berbicara kepada mereka dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rasulullah juga mengajarkan anak-anak untuk menghormati dan menghargai orang tua.

    3. Memberikan perhatian yang cukup

    Selain memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anak, baik dalam mengajari mereka pelajaran agama maupun kehidupan sehari-hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun sering meluangkan waktu untuk mendengarkan dan berbicara dengan anak-anak.

    4. Mengajarkan budi pekerti yang baik

    Mengajarkan anak-anak untuk berbudi pekerti yang baik ditunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, seperti sopan santun, menghormati orang tua dan orang lain, dan berempati kepada sesama.

    5. Mendorong pembelajaran

    Selain mengajarkan dalam perilaku sehari-hari Rasulullah juga mendorong anak-anak untuk belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Beliau menganggap pendidikan sangat penting dan menjadikannya sebagai prioritas dalam mendidik anak.

    6. Mengajarkan rasa tanggung jawab

    Sikap bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan anak-anak diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan memberikan tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan mereka.

    7. Mendorong kemandirian

    Yaitu dengan mengajarkan anak-anak untuk mencari jalan keluar sendiri dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Apapun hasil yang diperoleh menjadi sebuah usaha yang patut dihargai. 

    8. Membangun hubungan yang baik dengan Allah Ta’ala

    Anak-anak selalu diingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendekatkan diri kepada Allah dalam segala hal. Beliau mengajarkan mereka untuk beribadah dan berdoa dengan tulus kepada Allah serta  menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Bahwa dunia ini sementara dan akhirat adalah tujuan utama dalam hidup.

    9. Mendorong kegiatan yang bermanfaat

    Anak-anak didukung untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan produktif. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan anak-anak tentang pentingnya belajar, membaca, dan merawat lingkungan. Rasulullah juga mengajarkan anak-anak untuk membantu orang lain dan menjadi pemimpin yang baik di masyarakat.

    10. Mengajarkan nilai-nilai moral dan agama

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga nilai-nilai moral dan agama. Beliau mengajarkan tentang pentingnya berbuat baik, jujur, dan adil juga mengingatkan tentang pentingnya beribadah dan menjalankan ajaran agama dengan benar.

    11. Membimbing dengan kasih sayang dan kebijaksanaan

    Membimbing anak-anak dengan kasih sayang dan kebijaksanaan, yaitu dengan memberikan nasihat dan arahan kepada mereka dengan lembut dan tidak memaksakan. Rasulullah juga memberikan kedisiplinan yang tepat jika diperlukan.

    12. Mengajarkan kesabaran

    Mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kesabaran dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup pun tak ketinggalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan yaitu dengan mengingatkan bahwa kesabaran adalah kunci untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

    Dalam mendidik anak, penting bagi orang tua untuk mengikuti contoh yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Dengan mengikuti metode yang diajarkan oleh Rasulullah, kita dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak-anak dan membantu mereka menjadi individu yang berakhlak mulia.

    Cara Mendidik Anak yang Baik

    Menjadi orang tua yang baik membutuhkan dedikasi dan komitmen yang tinggi dalam mendidik anak. Beberapa literasi memberikan tips dalam mendidik anak yang baik, antara lain:

    1. Orang tua adalah role model

    Sebagai orang tua, hendaknya kita menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Jadilah teladan dalam hal etika, sikap, perilaku dan berbicara dalam keseharian.

    2. Menjalin komunikasi yang baik

    Berbicaralah dengan anak-anak secara terbuka dan jujur. Dengarkan mereka dengan penuh perhatian dan berikan mereka ruang untuk menyampaikan pendapat dan perasaan mereka.

    3. Memberikan perhatian dan kasih sayang

    Memberikan anak-anak perhatian penuh dan tunjukkan kasih sayang kepada mereka. Jadilah pendengar yang baik dan berikan pujian dan dorongan positif kepada mereka.

    4. Menetapkan batasan dan aturan yang jelas

    Tetapkan batasan dan aturan yang jelas terhadap anak-anak. Tak lupa jelaskan juga alasannya secara terperinci dan memberikan konsekuensi yang sesuai ketika aturan dilanggar.

    5. Mengajarkan pendidikan nilai-nilai

    Ajarkan anak-anak tentang nilai-nilai yang baik seperti kejujuran, rasa tanggung jawab, kerja keras, dan empati. Berikan mereka pemahaman tentang pentingnya membantu orang lain dan menjadi anggota yang berkontribusi dalam masyarakat.

    6. Kesempatan untuk berkembang

    Berikan anak-anak kesempatan untuk berkembang dalam berbagai bidang, seperti olahraga, seni, musik, dan lain-lain. Dukung minat dan bakat mereka dengan memberikan waktu dan sumber daya yang diperlukan.

    7. Monitoring dan pengawasan

    Pantau kegiatan dan pergaulan anak-anak. Pastikan mereka terlibat dalam aktivitas yang sehat dan aman, serta menghindari narkoba dan perilaku negatif lainnya.

    8. Memberikan dukungan emosional

    Mendukung anak-anak dalam menghadapi tantangan dan kegagalan. Ajarkan mereka untuk menghadapi masalah dengan kepala tegak dan bersikap positif. Tetapkan harapan yang realistis dan berikan mereka dukungan emosional ketika mereka menghadapi kesulitan.

    9. Ajarkan resolusi konflik

    Mengajarkan anak-anak tentang cara menyelesaikan konflik secara damai dan menghargai pendapat orang lain. Berikan mereka instrumen pengelolaan emosi yang positif dan bantu mereka memahami pentingnya komunikasi yang efektif.

    10. Menjalin kepercayaan

    Berikan anak-anak kepercayaan untuk membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab dalam hidup mereka. Biarkan mereka belajar dari kesalahan mereka sendiri dan tumbuh sebagai individu yang mandiri.

    Mendidik anak bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan komitmen dan kasih sayang yang tulus, sebagai orang tua kita dapat membantu anak-anak menjadi individu yang bertanggung jawab, beretika, dan memiliki nilai-nilai yang baik.

    Cara-Rasulullah-Mendidik-Anak

    Cara Mendidik Anak Agar Mandiri dan Bertanggung jawab

    Seorang anak tidak akan langsung tumbuh mandiri dan bertanggung jawab. Oleh karena itu perlu ada pembentukan karakter sejak dini. Orang tualah yang membentuk dengan pola asuh juga sentuhan yang hangat. 

    Maka penting memilih metode yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak juga selalu perhatikan perkembangan anak, bersabar dalam membantu mereka mempelajari dan mempraktikkan tanggung jawab dalam aktivitas sehari-harinya. Mengingat pula bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan dan kondisi yang berbeda, jadi bersabarlah dan terus mendukung mereka dalam proses pembelajaran ini.

    Penutup

    Pertanyaan bagaimana cara mendidik anak agar mandiri dan bertanggung jawab mudah untuk dijawab karena banyak literatur yang memberikan penjelasan. Namun realisasinya tidaklah mudah. Membutuhkan koordinasi banyak pihak, antara ayah, ibu, keluarga dan anak-anak.  

    Usaha demi usaha yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan suatu saat akan membuahkan hasil. Proses tumbuh kembang anak membutuhkan perjuangan sehingga perlu dinikmati dengan rasa bahagia.

    Salam semangat

    Sumber referensi:
    Nelsen, J., & Lott, L. (2016). Positive Discipline in the Classroom. Harmony.
    https://www.popmama.com/amp/mom-life/parenting/yessi-setiawati/5-tips-menanamkan-tanggung-jawab-pada-anak?page=all
    https://beeabd.com/read/Parenting/Ibunda%20Idaman/menanamkan-rasa-tanggung-jawab-pada-anak
  • Kenali Cara Mendidik Anak Sesuai Umur dengan Paket Internet Cepat

    Sebuah pertanyaan muncul saat memasuki gerbang kehidupan menjadi orang tua, bagaimana sih cara mendidik anak sesuai umur? Untuk menjawabnya tentu bukan hal mudah, karena kita perlu memahami dan mengenal lebih dekat tentang dunia baru ini. Ya, menjadi orang tua adalah awal dari langkah yang panjang. 

    Sejak awal melangkah saya dan suami berusaha menyamakan langkah dalam proses pengasuhan buah hati. Menggali do and don’t yang sebaiknya dilakukan, belajar dari pengalaman pola asuh yang pernah dijalani dan menggali ilmu dari ahli parenting. 

    Ternyata cukup banyak teori parenting yang perlu dipahami lebih mendalam. Karena seorang anak tidak hanya terlahir untuk dibesarkan dengan pemenuhan kebutuhan fisiknya saja, tetapi lebih dari itu. Sehingga membutuhkan sentuhan mendalam yang jauh nantinya bisa lebih dirasakan. 

    Pola Pengasuhan Buah Hati

    Masa pertumbuhan tidak hanya memakan waktu satu hingga tiga tahun saja, tetapi panjang. Karena tumbuh tidak hanya terlihat secara fisik semata, kondisi mentalnya juga perlu mendapatkan perhatian. 

    “Bunda kenapa sih adek nggak boleh main hp, kok Mbak boleh? Aku kan juga udah besar,” proses si bungsu suatu hari. 

    “Adek boleh kok main hp, tapi ada batasan waktunya. Mbak waktunya lebih lama karena tugas sekolah Mbak dikirimnya lewat hp,” jawabku menjelaskan. 

    Memberikan pemahaman dan penjelasan pada anak memang tidak semudah kita berbicara dengan teman sejawat. Berbicara dengan perlahan, memilih kosakata yang mudah dipahami dan menjelaskan dengan suasana yang nyaman. 

    Setiap orang tua akan berusaha memahami anaknya satu persatu. Karena meskipun terlahir dari rahim yang sama, tetapi memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Fakta inilah yang membuat kita sebagai orang tua diingatkan untuk tidak membandingkan antara satu anak dengan yang lainnya. 

    Biarkan mereka tumbuh dengan baik dan menjadi diri mereka sendiri karena pada dasarnya setiap anak adalah insan yang unik dan menarik. Untuk menambah wawasan seputar dunia parenting, saya memanfaatkan berbagai aplikasi pendukung yang mampu memberikan support dalam pengasuhan dan memahami bagaimana cara mendidik anak sesuai umur. 

    Era digital saat ini, kita memang banyak mendapatkan dukungan yang canggih untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Mulai dari aplikasi pendukung sampai kegiatan memasak di rumah, tentunya dengan memaksimalkan paket internet cepat. Alhasil dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendukung masa tumbuh kembang anak.

    Pola-pengasuhan-buah-hati

    Parenting Ala Keluargaku

    “Bunda, tolong bantuin adek ngerjain tugas sekolah dong. Bingung nih Bun,” rengek si bungsu saat mendapat tugas Math. 

    “Iih, gampang gitu aja masa minta dibantuin Bunda, kerjain sendiri dong. Lagian di sekolah juga udah diajarin,” goda si kakak begitu mendengar adiknya merengek. 

    Sebagai orang tua, kita sebenarnya memahami bahwa setiap anak mempunyai kelebihan dan keunikannya masing-masing. Namun terkadang disadari atau tidak, kita justru membandingkan antar mereka. Anak A mempunyai banyak kelebihan yang jauh berbeda dengan anak B, atau sebaliknya. 

    “Jangan menyesali, menyalahkan bahkan mengutuk kelemahan yang dimiliki anak, karena Tuhan juga memberikan kelebihan untuknya. Fokuslah pada kelebihan yang ia miliki, dukung terus sehingga ia percaya diri dengan kelebihan yang ia miliki. ~ Bunda Aulia (Psikolog Anak)

    Kutipan parenting ini mengingatkan saya untuk bisa menahan diri ketika ada keinginan untuk membandingkan anak-anak. Saya tarik rem kuat-kuat agar hal tersebut tidak terjadi. Berusaha mengendalikan emosi dan berfikir dengan tenang.  

    “Iya Dek, tenang aja nanti kita selesaikan bersama ya. Ini kakak bukannya bantu adik sih, biar tugasnya bisa cepat selesai. Kok malah digodain gitu.” 

    Membandingkan antara satu sama lain memang mudah, tetapi dampak yang ditimbulkan juga justru lebih dalam. Anak jadi mudah minder, tidak percaya diri, kurang keberanian dan mudah patah semangat. Duh, jangan sampe begitu ah. 

    Sama halnya kita tidak bisa membandingkan perkembangan anak sekarang dengan dahulu. Zaman sudah banyak perubahan. Kondisi yang dihadapi juga jauh berbeda dan jelaslah perbedaan yang terjadi. 

    Cara Mendidik Anak Sesuai Umur Menurut Ahli Parenting

    Pola pengasuhan pun menyesuaikan dengan generasi yang dihadapi. Ini menjadi tantangan besar untuk para orang tua, akan sejauh manakah orang tua berperan dalam pengasuhan buah hatinya di masa digital saat ini. 

    Kemajuan teknologi membuat anak era digital lebih berkembang pesat dan canggih dalam dunia digital jauh lebih unggul dari orang tuanya. Darling dan Steinberg, 1993, mencetuskan tiga pola pengasuhan, yaitu :  

    1. Pengasuhan Otoriter (Tiger Parenting)

    Merupakan model pengasuhan yang lawas dan kekurangannya adalah anak-anak sangat tergantung pada orang tua dalam mengambil keputusan. Kondisi ini memberikan dampak buruk terhadap kebahagiaan emosi untuk jangka panjang. 

    2. Pengasuhan Permisif (Jellysh Parenting)

    Adalah kebalikan dari pola pengasuhan otoriter, yaitu anak lebih banyak mengendalikan orang tua. Tujuannya untuk membentuk ketergantungan emosional antara anak dan orang tua. Namun hasilnya anak jadi kurang mampu berkompetisi dan mengikuti tatanan sosial. 

    3. Pengasuhan Otoritatif (Dolphin Parenting)

    Pengasuhan yang melibatkan 3 faktor yaitu hubungan orang tua dan anak, praktek dan perilaku orang tua serta sistem keyakinan orang tua. Tujuan pengasuhan ini adalah melakukan kolaborasi bersama, menjaga gaya hidup seimbang dan mengoptimalkan nilai-nilai karakter. Para pendidik pun menilai pola pengasuhan ini sangat relevan dengan abad 21 ini. 

    Cara-mendidik-anak-sesuai-umur-menurut-ahli-parenting

    Orang Tua, Anak dan Internet

    Proses pengasuhan seyogyanya menjadi pilihan bersama antara ibu dan ayah. Karena sosok orang tua adalah role model yang membersamai tumbuh kembang buah hatinya. Sehingga keduanya perlu menyamakan pemikiran dan keinginan untuk meraih satu tujuan yaitu mampu mengoptimalkan tumbuh kembang anak. 

    Meniti jalan bersama dengan persamaan tujuan akan membuat ikatan keluarga menjadi lebih kuat. Saat yang satu lupa, pasangan akan mengingatkan. Terus saling mengingatkan satu sama lain. Ketika yang satu marah maka pasangan berusaha memadamkan dan menenangkan. 

    “Proses pendidikan anak adalah proses bersama antara kedua orang tua dan keberhasilannya tergantung pada kerjasama antara kedua pasangan. Tidak tepat bila masing-masing dari suami atau istri memiliki rencana atau tujuan sendiri dalam mendidik anak tanpa melibatkan pasangannya. Salah satu sebab penyimpangan pada anak-anak dari orang tua yang saleh adalah adanya ketidakseimbangan didikan dan ketidaksepakatan antara kedua orang tua.” 

    Namun saat anak sudah semakin tumbuh besar, saling mengingatkan juga bisa melibatkan mereka. Bahkan mereka pun bisa diajak ikut diskusi. Memang pemikiran mereka belum matang, tetapi apapun masukan yang diberikan tetap menjadi sumbangsih pemikiran. Biasanya dalam menentukan tempat berlibur, atau menentukan pilihan acara keluarga. Memang terkesan simple, tetapi ekspresi mereka menunjukkan sinar bahagia.

    Perkembangan anak generasi Millennial sampai generasi Alpha sangatlah pesat didukung dengan kemajuan teknologi digital. Mereka tidak hanya bergelut saat berada di sekolah saja, tetapi juga ketika di rumah. Adanya paket internet cepat semakin memudahkan apa yang ingin mereka dapatkan. 

    Tidak hanya tentang tugas disekolah saja, dalam berbagai hal pun mereka bisa dapatkan dengan mudah. Adanya aplikasi pendukung tertentu juga interaksi dengan social media membuat daya pikir mereka meluas. Tak heran jika mereka jadi unggul dan lebih banyak tahu akan berbagai hal. 

    Inilah tantangan orang tua zaman now. Lalu seberapa mampukah orang tua membersamai mereka dengan dukungan teknologi digital saat ini? Sebagai ibu saya mengakui tidak dapat sepenuhnya mampu mengimbangi kecanggihan mereka. Namun demikian bukan berarti saya menyerah dan memberikan kebebasan penuh.  

    Peran-teknologi-digital-terhadap-pola-pengasuhan-anak

    Peran Teknologi Digital Terhadap Pola Pengasuhan Anak

    Menitikberatkan pada kepercayaan dan mau berbagi, saling berinteraksi dengan keterbukaan. Orang tua punya aturan tertentu dan anak menjalankannya dengan keterbukaan. Tujuannya agar orang tua bisa menjadi tempat curhat mereka juga sharing tentang berbagai hal yang ingin mereka ketahui.

    “Love is the chain whereby to binds a child to its parents.” ( Cinta adalah rantai yang mengikat seorang anak kepada orang tuanya.) – Abraham Lincoln

    Teori cara mendidik anak sesuai umur menjadi masukan yang berguna, kemudian penerapannya disesuaikan dengan keinginan orang tua. Ingin menjadikan anak-anak seperti apakah kelak tentu dimulai sejak pengasuhan dini. 

    Memanfaatkan paket internet cepat tidak semata untuk faktor ekonomi saja. Bukankah saat ini segalanya sudah menjadi lebih mudah, bahkan dimudahkan dalam genggaman tangan. Tinggal klik klik, apa yang kita inginkan bisa dengan cepat didapatkan. 

    Banyak informasi yang kita dapatkan dari berbagai aplikasi. Mulai dari info terupdate, viral dan detail informasi lainnya. Kerenkan kalau begini. Indonesia tercatat berada di urutan ke empat pemakai internet terbesar di dunia. Karena tidak hanya kaum muda saja yang memanfaatkannya. Usia anak hingga tua ikut berperan didalamnya dengan berbagai tujuan. 

    Seputar info pengasuhan tidak hanya melalui satu media saja, tetapi bisa dengan beragam aplikasi pendukung. Tak heran jika semua menuntut penggunaan paket internet cepat agar segala yang diinginkan cepat terpenuhi. 

    Penutup

    Pola cara mendidik anak sesuai umur seperti apa yang diinginkan, masihkah bingung menentukan pilihan? Kemajuan teknologi sudah memberikan banyak dukungan apalagi dengan paket internet cepat. 

    Telkom Indonesia memberikan fasilitas penuh untuk pemenuhan kebutuhan internet dari Sabang sampai Merauke. Mungkin masih ada yang belum terjangkau sepenuhnya, dan berbagai usaha terus diupayakan agar jangkauan semakin meluas. 

    IndiHome menjadi pilihan internet Indonesia yang mampu memberikan support untuk seluruh masyarakat dalam segala sektor kehidupan. Anak-anak bisa menikmati tayangan edukatif, dan orang tua pun bisa ikut mendampingi untuk meningkatkan bonding. 

    Majulah generasi penerus dengan dukungan Telkom Indonesia. Kembangkan dan perluas wawasanmu bersama paket internet cepat untuk membahagiakan orang tua tercinta.

    Salam,

     

  • Preschool Untuk Anak 2 Tahun, Sudah Perlukah Dilakukan?

    “Bu, tahu nggak dimana preschool untuk anak 2 tahun yang terbaik di dekat sini?”. 

    Kutipan ini adalah pertanyaan seorang ibu yang sedang asyik ngobrol seputar perkembangan anaknya. Ya terdengar begitu menggoda. Sebenarnya ingin rasanya mendengarkan sampai tuntas untuk tahu lebih jauh kelanjutannya, tetapi sayang ada yang sudah menunggu. 

    Alasan Orang Tua Merasa Perlu Menyekolahkan Anak Sejak Dini

    Pendidikan prasekolah atau preschool umumnya untuk anak 2-4 tahun. Perkembangan zaman yang semakin berkembang pesat membuat orang tua lebih memahami dan mengoptimalkan diri untuk mendukung tumbuh kembang anak di masa depannya. 

    Salah satunya dunia pendidikan dan preschool pun makin diminati para orang tua. Berbagai alasan demi alasan dituangkan untuk mewujudkan pendidikan sejak usia dini ini dilakukan, 7 alasan diantaranya adalah : 

    1. Anak Lain Sudah Masuk Sekolah

    “Teman seusia anak saya sudah banyak yang masuk sekolah jadi kenapa Angga tidak, nanti bisa ketinggalan donk!”

    Alasan ini banyak disampaikan para ibu hingga akhirnya anak pun ikut sekolah sesuai keinginan orang tua tanpa memastikan kembali kondisi anak. 

    2. Tidak Ingin Ketinggalan dengan Anak Lain

    Kekhawatiran ini sebenarnya wajar karena semua orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Selain itu juga berharap masa depan anaknya kelak bisa jauh lebih baik daripada dirinya. Namun kembali lagi, kemampuan dan kesiapan setiap anak itu berbeda-beda. So, bolehkah kita tetap memaksakannya?

    3. Ingin Anak Melakukan Aktivitas

    Bagi orang tua yang bekerja dan meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh atau dititipkan pada orang tua berkeinginan anak pun mempunyai aktivitas yang jelas. Hal ini membuat mereka memilih untuk menyekolahkan anak-anak sejak dini. 

    “Dunia anak adalah dunia bermain, karenanya anak harus diakomodasi kebutuhannya untuk bergerak secara aktif. Memilih prasekolah sebaiknya orang tua harus mengetahui dengan baik kurikulum yang dimiliki sekolah. Saat ini orang tua cenderung mengedepankan kecerdasan intelegensi dibandingkan kemampuan fisik dan bermain anak-anak. Akibatnya anak tidak bisa mengembangkan kreativitas dan tingkat kecerdasan sosialnya rendah.” (Reni Kusumowardhani, Psikolog) 

    4. Ingin Punya Banyak Teman

    Dunia anak adalah dunia bermain. Namun apa jadinya jika mereka hanya berada di sekitar rumah saja. Nonton tv, main dengan pengasuh atau kakek/nenek, games, dll. Kekhawatiran inilah yang membuat orang tua menyekolahkan anaknya. 

    5. Anak Butuh Aktivitas Terarah

    Saat melakukan aktivitas bersama anak, sebagian orang tua merasa kesulitan untuk kegiatan yang menyatu dan menyenangkan. Ya, karena kurangnya ide. Alhasil orang tua dan anak melakukan aktivitas masing-masing. 

    Alasan-Orang-Tua-Merasa-Perlu-Menyekolahkan-Anak

    6. Sekolah Bersama Kakak

    “Tidak apa kok adik ikut sekolah juga, apalagi di sekolah yang sama.” Ini menjadi alasan orang tua segera menyekolahkan anaknya. Padahal jika si anak boleh menjawab, tentu akan lebih memilih di rumah dulu dengan alasan belum siap sekolah. Ya, lagi-lagi faktor kesiapan seorang anak perlu diperhatikan sebelum benar-benar menyekolahkannya sejak dini. 

    7. Gengsi

    “Udah gak papa kok adik sekolah sekarang. Banyak lho anak teman Bunda yang anaknya seusia adik sudah pada sekolah. Tetangga kita juga sama kok.” 

    Faktor ego jadi alasan anak harus segera sekolah. Tidak ingin anak-anak ketinggalan dengan anak yang lain di sekitarnya. 

    Baca juga :

    Preschool Untuk Anak 2 Tahun, Tepatkah? 

    Kalau ditanya kapan sih sebaiknya anak mulai boleh sekolah? Tentu semua orang tua punya beragam jawaban. Bahkan jika diurai bisa dari A-Z. Panjang ya.

     

     

    Salam,

  • Hadits Tentang Ibu Adalah Madrasah Pertama Bagi Anak-anaknya

    Hadits tentang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, menguatkan peran ibu dalam keluarga. Tidak ada yang meragukan peran seorang ibu dalam pengasuhan anak-anaknya. 

    Tanggung jawab seorang ibu memang tidak hanya kepada anak saja, tetapi seluruh anggota keluarga. Berikut beberapa peran ibu dalam mendukung buah hati tercinta dalam masa tumbuh kembangnya.

    Hadits Tentang Ibu Adalah Madrasah Pertama Bagi Anak-anaknya

    Hafiz Ibrahim, seorang penyair, mengungkapkan “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Artinya : Ibu adalah madrasah atau pendidik pertama anaknya. Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya. 

    Tak dipungkiri kalau kebahagian seorang ibu adalah melihat anak-anak tercintanya tumbuh sehat, cerdas dan ceria. Buah hati menjadi bagian yang penting dan ibu berusaha untuk terus menjaganya sebaik mungkin. Bagaikan gelas yang dijaga dengan baik agar tidak terjatuh, sehingga keberadaannya terus dirawat dan diperhatikan dengan seksama.

    1. Ibu, Mendidik Anak-anaknya 

    Seorang ibu mulai menanamkan pendidikan sejak dini. Mengingatkan bagaimana bertutur kata, melakukan suatu perbuatan, misalnya diajarkan cara duduk, makan, berdiri juga membaca doa dan kegiatan lainnya. Ini menjadi pendidikan awal pembentukan karakter anak. 

    Ibu juga menanamkan nilai-nilai tauhid dan tak pernah berhenti mengingatkan juga memberikan perhatian untuk mendukung pertumbuhan anak-anaknya. Tak ada kata lelah dalam kamus seorang ibu. 

    Peran ibu tidak akan pernah tergantikan dan menjadi tumpuan utama bagi seorang anak. Perhatian, kasih sayang sentuhan lembut, tutur kata yang menenangkan akan selalu dinantikan dan dirindukan. 

    2. Ibu Menjadi Teladan Anak-anaknya

    Ibu memberikan warna dalam kehidupan anak-anaknya. Kedekatan ibu dengan buah hati kesayangannya membuat apa yang dilakukan menjadi tuntunan, dan akan diikuti dalam keseharian.  Ya, ibu menjadi teladan anak baik dalam sikap maupun perilaku.

    Mustafa Al-Ghalayain mengatakan, pendidikan merupakan usaha untuk menanamkan akhlak dalam jiwa anak. Bila akhlak sudah tertanam terus disirami dengan nasehat juga bimbingan yang tepat, nantinya akan menjadi watak atau sifat yang tertanam dalam jiwa. Buah dari akhlak terpuji tersebut akan terlihat dalam amal perbuatan yang baik pula. 

    Ibu, Mendidik Anak-anaknya 

    3. Ibu Memberikan Stimulasi Untuk Pertumbuhan Anak

    Peran ibu tidak hanya saat anaknya masih bayi dan balita, tetapi terus berlangsung dari bayi hingga tumbuh dewasa. Saat dalam kandungan ibu memberikan sentuhan untuk merangsang tumbuh kembangnya. 

    Seperti mendengarkan lantunan ayat suci, musik klasik, mengajaknya berbincang, memberikan usapan lembut juga membisikkan kata-kata yang indah. Bonding ini akan menciptakan keterikatan yang indah antara ibu dan janin. Stimulasi yang diberikan untuk meningkatkan gerak tubuh, mendukung perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik.  

    Tips Pendukung Peran Ibu

    Untuk mendukung peran ibu dalam kebersamaan dengan buah hati, perlu didukung dengan :

    1. Iman dan Takwa

    Iman dan takwa yang ada dalam diri ibu menjadi benteng penjaga kemurnian fitrah anak-anaknya. Kedua hal ini akan menguatkan ibu dalam proses pengasuhan dan pembentukan karakter. Membuat ibu juga mantap menentukan keputusan akan dibentuk seperti apakah anaknya kelak. Kemudian berkolaborasi dengan bapak dalam proses pengasuhannya. Berusaha untuk saling mendukung satu sama lain, menjadi sinergi positif. 

    2. Ilmu dan Pengalaman

    Calon ibu akan belajar bagaimana cara mengasuh anak dengan cara yang baik, penuh kasih sayang, kemudian didukung dengan memberikan stimulasi sesuai tahapan usia anak. Tanpa ilmu, pola pengasuhan anak tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Setelah menerapkan ilmu yang dimiliki, lambat laun ibu akan memiliki banyak pengalaman. Hal ini menjadi acuan untuk pengasuhan anak selanjutnya. Selain itu juga tidak lelah dalam mengupgrade ilmu agar orang tua bisa memperbaiki kesalahan dan menutupi kekurangannya. 

    3. Doa dan Keikhlasan

    Iringan doa yang terus ibu panjatkan akan memberikan kekuatan dalam menjadi proses tumbuh kembang anak. Doa menjadi senjata saat semua usaha sudah dilakukan dengan maksimal. 

    3. Menikmati Proses dengan Sabar dan Tawakal

    Membersamai masa tumbuh kembang anak bukan dalam waktu sesaat saja, tetapi dalam periode panjang. Dari bayi hingga dewasa. Menikmati proses yang sedang berjalan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan membuat rasa berat yang mendera menjadi lebih ringan. 

    Saat proses pengasuhan mengalami ujian maka mintalah kesabaran penuh kepada Allah SWT agar dapat terus di tambahkan. Tak ada istilah sabar ada batasnya. Jika kadarnya terasa berkurang mintalah terus kepada Sang Pemilik agar dapat terus ditambahkan, lagi dan lagi. 

    Penutup

    Hadits tentang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya semakin menegaskan bahwa ibu menjadi pilar pendidikan anaknya. Berusaha terus mengoptimalkan masa tumbuh kembangnya dengan memberikan stimulasi, support perkembangan fisiknya agar kemampuannya sesuai dengan usianya. 

    Bagi ibu tidak ada kata lelah ataupun putus asa saat membersamai anak-anak tercintanya. Ibu memang superwoman. Mampu melakukan banyak hal dalam keluarga. Love you Moms. 

    Salam sayang,

  • Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak Menurut Para Ahli, Sudah Tahukah Bunda

    Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak menurut para ahli, sudahkah diketahui para orang tua? Faktanya memang banyak hal yang mempangaruhi masa tumbuh kembang tersebut. Semua orang tua pun  memiliki harapan yang sama untuk buah hatinya, ingin mereka tumbuh dan berkembang dengan baik juga optimal dan menjadi insan bermanfaat.

    Untuk mewujudkan keinginan tersebut banyak cara yang dilakukan. Tidak hanya saat anak sudah terlahirkan, tetapi mulai dilakukan sejak dalam kandungan. Tahapan selanjutnya adalah mengoptimalkan tumbuh kembangnya mulai dari masa bayi sampai usia sekolah. Peran orang tua memang tidak hanya sesaat, tetapi sepanjang masa kehidupannya.  

    Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak Menurut Para Ahli

    Setiap orang tua mengetahui bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun ternyata tidak semua orang tua memiliki pemahaman yang sama, terlebih dalam memahami apa itu tumbuh kembang anak sesuai dengan usia juga tahapannya. 

    Memang betul, ada faktor indikator pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan tahapan usia anak, dan hal inilah yang selayaknya diketahui oleh semua orang tua. Selain itu sebaiknya Bunda juga mengetahui bagaimana pengertian pola asuh menurut para ahli

    Baca juga :

    Apa Itu Tumbuh Kembang Anak

    Uups, sebenarnya sudah tahukah Bunda apa yang dimaksud dengan tumbuh kembang anak? Ada yang mengatakan bahwa tumbuh itu artinya anak semakin bertambah besar, sedangkan berkembang maksudnya kemampuan tubuhnya terus meningkat.  

    Tumbuh atau growth adalah terjadinya perubahan fisik pada anak yang dapat diketahui dengan cara pengukuran dan pengamatan langsung. Misalnya menggunakan timbangan untuk mengetahui berat badan, mengukur lingkar kepala dan mengamati perubahan yang terlihat jelas. 

    Sedangkan perkembangan atau development adalah perubahan struktur kemampuan tubuh yang bersifat kompleks. Jadi sebenarnya secara umum pertumbuhan dan perkembangan anak terbagi menjadi dua, yaitu pertumbuhan fisik dan pertumbuhan struktur tubuh.

    Faktor Pendukung Tumbuh Kembang Anak

    Tentunya Bunda sudah mengetahui jika masa pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung, antara lain :

    1. Genetik

    Tidak dipungkiri bahwa faktor genetik turut mendukung dalam tumbuh kembang anak. Ciri fisik yang dapat terlihat seperti tinggi dan berat badan, struktur tubuh, tekstur rambut, warna mata, juga bakat kemampuan seseorang. 

    2. Gender

    Faktanya tumbuh kembang antara laki-laki dan perempuan memiliki proses yang berbeda. Perkembangan perempuan untuk tumbuh dewasa cenderung lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. 

    3. Hormon

    Hormon merupakan faktor internal alami dalam tubuh setiap orang. Apabila produksi hormon disesuaikan dengan kebutuhan maka fungsi dan kemampuan organ tubuh akan berjalan sebagaimana mestinya.

    Begitu pula jika produksi hormon tidak seimbang maka akan mempengaruhi fungsi organ tubuh tertentu seperti terjadi gangguan kesehatan dan tumbuh kembang seseorang. 

    4. Asupan Nutrisi

    Tubuh membutuhkan berbagai jenis nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang didapat dari asupan makanan sehari-hari. Kebutuhan nutrisi yang terpenuhi dengan baik akan membuat fungsi metabolisme tubuh bekerja dengan optimal. 

    Sedangkan asupan nutrisi yang kurang atau berlebih akan membuat tubuh mengalami kesulitan untuk menjalankan kinerjanya dengan baik. 

    5. Aktivitas Fisik

    Seseorang dengan aktivitas fisik yang baik akan membantu menguatkan otot dan massa tulang dengan lebih baik. Kondisi tubuh pun akan menjadi lebih bugar dan kesehatan terjaga.  

    6. Pendidikan

    Tak dipungkiri bahwa pemahaman dan pengetahuan seseorang akan menjadi lebih baik bila didukung dengan pendidikan, baik didapatkan di rumah atau sekolah. Jenjang pendidikan pun disesuaikan dengan usia anak didik agar dapat benar-benar sesuai dan diterima dengan baik. 

    7. Lingkungan

    Faktor lingkungan memang amat luas dan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan yang sehat akan pengaruh yang baik, begitupun sebaliknya. 

    Kesimpulan 

    Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak menurut para ahli tidak hanya dipengaruhi oleh satu atau dua faktor saja. Memahami apa itu tumbuh kembang anak secara nyata tentu akan membuat para orang tua tidak kewalahan dalam menikmati kebersamaan dengan buah hati. 

    Banyak cara yang dilakukan untuk dapat memastikan masa tumbuh kembang tersebut. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, mengoptimalkan pemberian nutrisi juga memberikan stimulasi sesuai usia anak. 

    Peran Bunda dan pasangan dalam menikmati masa tumbuh kembang anak menjadi bagian penting untuk masa depan mereka. Melalui orang tualah mereka akan mendapatkan banyak pemahaman tentang apa dan bagaimana kondisi di sekitarnya. 

    Salam bahagia,  

  • Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Para Ahli

    Pengertian pola asuh orang tua menurut para ahli, apakah itu? Setiap keluarga tentu sudah memiliki cara untuk pengasuhan untuk buah hatinya. Pengasuhan orang tua tersebut nantinya akan memberikan dampak pada tumbuh kembang anak kelak. 

    Berdasarkan rujukan tersebut nantinya akan membantu kita menentukan pilihan, mana yang ingin dipilih dalam menjalin kebersamaan dengan buah hati. Tentunya apapun pilihan yang diambil sudah melalui berbagai pertimbangan. 

    Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Para Ahli

    Pemilihan pola pengasuhan anak dapat disesuaikan oleh banyak faktor, seperti pengalaman masa lalu, mengikuti saran ahli parenting, dilakukan secara alami, ingin memberikan kebebasan pada anak, dan sebagainya. 

    Berdasarkan pola pengasuhan inilah yang membuat karakter setiap anak berbeda-beda. Anak tumbuh dan berkembang menjadi jiwa yang unik dan sudah selayaknya kita menghormati perbedaan yang ada. Tidak membandingkan atau mengucilkan perbedaan tersebut.   

    Pola asuh anak merupakan suatu proses untuk mendukung perkembangan fisik, mental, intelektual, emosional, sosial juga finansial anak mulai dari bayi sampai kelak dewasa. 

    Jenis Pola Asuh Orang Tua Menurut Para Ahli

    Pola Asuh Orang Tua

    Psikolog Diana Baumrind telah melakukan penelitian pada 100 anak lebih sejak tahun 1960-an dan mendapatkan tiga cara pola asuh anak. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Eleanor Maccoby dan John dan menambahkan satu cara pola pengasuhan. 

    Berikut empat jenis pola asuh berdasarkan dari penelitian tersebut :

    1.Pola Asuh Orang Tua Otoriter

    Orang tua mempunyai peraturan yang cukup ketat dan apabila dilanggar maka anak akan mendapatkan hukuman. Tujuan pola asuh ini adalah anak-anak dapat berbuat baik dan tidak melakukan kesalahan.

    Berdasarkan penelitiannya Baumrind menjelaskan bahwa orang tua yang melakukan pola asuh otoriter memiliki orientasi yang lebih pada kepatuhan dan status. Buah hati memang menjadi pribadi yang patuh dan cakap. 

    Meski demikian mereka cenderung menjadi pribadi yang tidak bahagia, kemampuan sosialnya kurang dan memiliki harga diri yang rendah. 

    2.Pola Asuh Orang Tua Demokratis 

    Pola asuh demokratis yaitu orang tua menerapkan peraturan untuk mendukung perkembangan buah hatinya, tetapi lebih bersifat demokratis. Berusaha responsif dan mau mendengarkan keluh kesah anak dengan penuh kasih sayang. 

    3.Pola Asuh Orang Tua Permisif 

    Orang tua memberikan pola asuh yang senang memanjakan dan memiliki harapan tertentu terhadap buah hatinya. Pola pengasuhan ini memang lebih responsif dibandingkan dua pola asuh sebelumnya. 

    4.Pola Asuh Orang Tua Lalai     

    Dalam pola asuh ini, peran orang tua cenderung tidak menuntut, tidak responsif juga kurang komunikasi. Hasilnya anak tidak memiliki kontrol diri terhadap apa yang dilakukannya di kemudian hari. 

    Pola Asuh Anak yang Baik

    Tidak dipungkiri bahwa setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk semua buah hatinya, tanpa terkecuali. Bagi orang tua bentuk apapun yang dilakukan untuk anak merupakan wujud kasih sayangnya. Memahami pengertian pola asuh orang tua menurut para ahli dapat menjadi tambahan ilmu untuk memantapkan pemilihan pola asuh anak. 

    Oleh karena pola pengasuhan adalah investasi untuk jangka panjang karena hasilnya tidak akan langsung dapat dirasakan saat ini juga. Sehingga membutuhkan waktu dan kesabaran dalam menjalani prosesnya. Ya, semua berproses dan kondisinya disesuaikan dengan masa tumbuh kembang anak. 

    Pola asuh anak yang baik akan membentuk karakter anak yang baik juga, seperti memiliki rasa empati, mampu menempatkan diri dimanapun dengan baik, mempunyai jiwa kemandirian, keceriaan, kejujuran, rasa kasih sayang serta pengendalian diri yang baik.

    Baca juga :

    Kesimpulan

    Memahami pengertian pola asuh orang tua menurut para ahli tentu akan membuat kita selaku orang tua mampu memahami mana yang sesuai dengan kondisi buah hati. Meskipun faktanya gaya pola asuh anak pada setiap keluarga tentunya memiliki perbedaan. 

    Namun demikian semua orang tua mempunyai niatan yang sama, yaitu ingin memiliki generasi sesuai harapan. Oleh karena itu pemilihan pola asuh disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Jenis pola asuh manakah yang Bunda dan pasangan terapkan untuk mendukung perkembangan buah hati?

     

    Salam bahagia,

     

  • Pengertian Pola Asuh Orang Tua yang Perlu Diketahui

    Pengertian pola asuh orang tua yang perlu diketahui, apakah itu? Sudahkah Bunda tahu maknanya? Bisa jadi kita sudah memahami maknanya sebagian. Kalau dari apa yang kita kenal selama ini, pola asuh adalah bagaimana orang tua memberikan pemahaman dan pendidikan sejak dini kepada buah hatinya. 

    Namun, benarkah demikian. Tak dipungkiri bahwa semua keluarga memiliki harapan yang sama yaitu berharap memiliki buah hati yang membanggakan kelak di kemudian hari. Oleh karena itu, para orang tua menentukan bagaimana pola pengasuhan untuk mendukung pertumbuhan buah hatinya agar harapan tersebut dapat terwujud. 

    Pengertian Pola Asuh Orang Tua

    Bagi orang tua ataupun calon orang tua perlu memahami dahulu bahwa pola pengasuhan tidak bisa disamakan dengan pemenuhan kebutuhan mereka. Kebutuhan sandang, pangan dan papan merupakan bagian yang sudah selayaknya dapat terpenuhi sesuai kemampuan masing-masing keluarga.

    Pola asuh orang tua merupakan pola perilaku yang diajarkan orang tua terhadap buah hatinya dan setiap orang tua memiliki bentuk pengasuhan yang berbeda. Namun semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk kebaikan buah hati kelak. 

     

    Bunda dan semua orang tua tentu memiliki harapan yang sama, yaitu ingin memiliki generasi penerus keluarga yang berbakti dan bermanfaat untuk diri juga sekitarnya. Tentunya juga ditunjang dengan perilaku anak yang berakhlak baik. 

    Jelaslah bahwa pola pengasuhan tidak bisa dibentuk begitu saja. Orang tua yang merupakan role model memiliki peran penting dalam proses tumbuh kembang anak-anaknya. Apa yang diamati, didengar juga dilihat oleh anak akan menjadi rekam jejak bagi mereka kelak. 

    Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menirukan perilaku orang tua. Salahkah? Tentu saja tidak karena anak-anak tidak mengetahui apa dan bagaimana yang sebaiknya mereka pilih dan lakukan. Mereka hanya meniru tanpa tahu dampaknya kelak.

    Namun, seiring bertambahnya usia dan pemahaman yang jelas barulah suatu hari nanti mereka memahami apa yang sudah dilakukannya. Apabila perilaku tersebut baik maka dampaknya pun baik, tetapi bagaimana jika sebaliknya.

    Bukan hal buruk yang diharapkan terjadi. Oleh karena itu, pola pengasuhan diterapkan oleh masing-masing keluarga. 

    Memahami Pengertian Pola Asuh Orang Tua

    Memahami Pengertian Pola Asuh Orang Tua

    Pola asuh orang tua bertujuan untuk pembentukan karakter anak. Faktanya ada banyak pengertian mengenai pola asuh orang tua tersebut.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pola asuh terbagi menjadi 2 kata, yaitu pola dan asuh. Pola berarti gambaran, pola, corak, sistem, cara kerja atau sistem yang tetap. Sedangkan kata asuh dapat diartikan menjaga (mengasuh, mendidik) anak, membimbing (memberikan pengarahan, pengasuhan) pada anak. 

    Tridhonanto, pengamat parenting menjelaskan bahwa pola asuh orang tua adalah bentuk dari keseluruhan interaksi orang tua dan anak, yaitu orang tua memberikan dorongan pada anak dengan mengubah perilaku, pengetahuan dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua. 

    Tujuannya agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat juga optimal, mempunyai keingintahuan yang tinggi, percaya diri, bersahabat dan berorientasi untuk sukses di masa depannya. 

    Menurut Hurlock, psikolog parenting, pola asuh orang tua adalah metode disiplin yang diterapkan orang tua terhadap anaknya yang meliputi dua konsep, yaitu konsep positif dan negatif. Konsep positif menekankan pada disiplin dan pengendalian diri, sedangkan konsep negatif bentuk pengekangan dengan cara yang tidak disukai dan menyakiti. 

    Baca juga : 

    Kesimpulan

    Pengertian pola asuh orang tua bertujuan untuk memberikan bimbingan, pengasuhan agar masa depan anak nantinya sesuai dengan harapan orang tua. Tumbuh mandiri, berkarakter baik, percaya diri dan disiplin. Makna yang memiliki arti yang sama demi menjaga tumbuh kembang buah hati tercinta.  

     

    Salam bahagia,